Sunday, July 13, 2008

Wisata Pecinan Semarang



Wisata Pecinan Semarang

MEMASUKI kawasan pecinan (Cinatown) Semarang ibarat memasuki wilayah 1001 klenteng. Bagaimana tidak, hampir di setiap ujung gang di kawasan itu terdapat klenteng yang masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri. Nilai historis yang nyata hingga legenda yang besar se-antero Nusantara akan kita jumpai jika kita menjelajah klenteng-klenteng di Kota Semarang.Ada 11 klenteng besar di Semarang, 10 di antaranya terdapat di kawasan pecinan, yaitu Klenteng Siu Hok Bio, Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tay Kak Sie, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, Tek Hay Bio, Wie Wie Kiong, See Hoo Kong, dan Klenteng Grajen.

Di samping menyimpan legenda keperkasaan Laksamana Cheng Ho, klenteng ini juga dikunjungi masyarakat dari berbagai agama, termasuk agama Islam. Laksamana Cheng Ho adalah orang Cina tetapi beragama Islam. Di klenteng ini tersimpan kemudi dan jangkar kapal Laksamana Cheng Ho yang digunakan pada waktu berlayar ke Pulau Jawa sekitar tahun 1406.

Kemudian klenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur yang saat ini merupakan klenteng tertua di kawasan pecinan Semarang. Klenteng ini didirikan tahun 1753 oleh warga Pecinan Lor sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diterima oleh penduduk sekitar Cap Kauw King. Klenteng ini masih mempunyai warisan yang berusia nisbiah kuno yaitu berupa cincin pegangan pintu dan ukiran pada ambang atas pintu klenteng.

Sedang Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng yang ada di Semarang. Nama klenteng yang menyiratkan napas Budhisme ini menjadi simbol heroisme etnis Cina di Semarang. Selain menjadi monumen perlawanan masyarakat Cina terhadap penjajahan Belanda, klenteng ini juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Cina terhadap kecurangan saudagar Yahudi yang menguasai Klenteng Sam Poo Kong.

Klenteng terbesar di kawasan pecinan Kota Semarang adalah Klenteng Wie Wie Kiong di Jalan Sebandaran I. Klenteng ini memiliki kolam hias di atrium depannya yang menjadi simbol bahwa semua masalah bisa diselesaikan. Keunikan klenteng ini adalah adanya beberapa patung manusia yang bentuknya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa.

Satu lagi klenteng besar di Jalan Sebandaran I adalah Klenteng See Hoo Kiong. Berbeda dengan klenteng lain yang memuja dewa-dewi pelindung, klenteng ini memuja Dewa Pedang. Keunikan klenteng ini adalah memiliki sumur yang terletak di halaman depan yang menurut legendanya merupakan tempat ditemukannya pedang yang kemudian dipuja.

***

SALAH satu klenteng besar yang merupakan klenteng marga adalah Klenteng Tek Hay Bio. Klenteng yang berada di Jalan Gang Pinggir ini milik marga Kwee. Tek Hay Bio dapat diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera sehingga klenteng ini disebut juga sebagai Klenteng Samudera Indonesia, dan peran ini dijabarkan dalam ornamen dengan dominasi unsur laut.

Selain menikmati keindahan klenteng yang dibangun ratusan tahun lalu, bila kita menyusuri kawasan pecinan Semarang, kita bisa menikmati suasana kehidupan masyarakat Tionghoa yang masih menjunjung tinggi tradisi. Belum lagi masakan khas Cina yang bisa dinikmati di beberapa rumah makan yang ada di kawasan ini.

KEINDAHAN bangunan klenteng dengan ragam legenda dan nilai historis yang terkandung di dalamnya, serta kekhasan kawasan pecinan tersebut yang akan “dijual” oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu produk pariwisata budaya. Selama ini kawasan ini belum dianggap sebagai obyek pariwisata yang potensial, apalagi kebijakan pemerintah Orde Baru waktu itu membatasi kegiatan-kegiatan yang berbau Cina.

“Kawasan pecinan mempunyai prospek bagus. Tingkat emosional orang Cina itu kan besar. Pada hari-hari tertentu seperti imlek, mereka pasti akan mengunjungi klenteng. Lihat saja kalau ada acara di Klenteng Sam Poo Kong, tempat ini banyak dikunjungi orang dari berbagai kota di Indonesia, hotel-hotel di Semarang penuh.

Semarang, juli 2008.

No comments: